cerpen terbaru gua!!
agak serius emang, tapi gua mencoba menghayati seorang Hendri Priambodo. yaaa maaf banget kalau ada kemiripan nama, pure fiktif belaka! kalau ada kesamaan, mungkin Anda inspirasi saya :))
klik disini!
Senin, 08 April 2013
Kamis, 28 Maret 2013
140 KARAKTER atau APA YANG ANDA PIKIRKAN?
Rasanya, kalau ada modem, lebih dari 2 jam gua mantengin
laptop gua. Niatnya sih, “eh bentar gua kayaknya ada tugas”… minutes later, gua
teriak “duh orangnya lagi deket sama orang laen!!” alias gua lagi kepo!!
Hahaha, ya mungkin emang gua aja tapi gua yakin ada yang dalem hatinya, “njir
sama banget!”
Terlepas dari semua kronologi kita berinternet ria. Gua
sedang membangun kasus, dari sebuah tweet seseorang
Ah Kampret. Gara-gara suka ngegantung nih
Tweet-nya menunjukan kebutaan emosional dari semua
pembacanya sehingga menimbulkan spekulasi dari pengguna twitter (apasih!). Ya
gitu, kalau di social media emang gak ada tanda menunjukkan tanda emosinya,
kita gak pernah tahu bagaimana seseorang punya emosi dengan 140 karakter itu.
Lain halnya facebook setelah friendster, facebook buat
orang-orang (termasuk gua) social media tergahul, bisa chat, liat photo,
sekolah dimana, siapa temennya. Waaaah kepo terlengkap emang lewat facebook,
karena facebook punya more than 140 karakternya jadinya istilah orang mau
update status jadi panjang,
Ya gua bete sama elu, elu tuh gak mau ngertiin gua, ya
gimana lagi sih, pokoknya…. Blahblahblah!
Ada kesan 140 karakter yang lebih panjang sama dengan
membaca curhat lebih panjang, disini pun lewat kata-kata yang sarkas atau
kata-kata seneng, kita cuman tahu emosi mereka kayak apa
Ada yang bilang gara-gara kemajuan teknologi kita jadi gak bisa nebak orang kayak apa, kalau kata gua kurang interaksi visual, mungkin sekarang ada kemudahan “LIHAT KEPRIBADIAN ORANG LEWAT TWEET ATAU STATUS -NYA” kalau yang dia ketik wise, orang mikirnya “paling co-paste”, kalau yang b3Gini4n, yes! You know what I mean dear! Tapi secara fisik kayak senyum dan tatapan muka seneng atau emosi lainnya, katanya orang-orang jadi kurang, kalau dipikir iya sih, lu lagi sedih terus tiba-tiba ada yang nge-chat lu,
Lu gak papa?
Jawab lu: iya gak papa (terus make emot senyum) :)
Shit ya, if you look at me now yaaaa… keiris berooooh!!
In case gua sendiri orang yang takut ketemu orang, gua lebih
nyaman sms atau di social media daripada ketemu langsung. Sebenernya dengan seringnya
gua maen di soc-med gua gak bisa melatih melawan ketakutan gua sama orang.
Emang aneh, tapi kenyataannya lu bakal ketemu orang yang asik banget diajak sms
atau chat tapi gak semuanya enak diajak ngobrol secara langsung (including me).
So this is what happen now
Gua mengangkat kasus dari fenomena ini (tabok gua!), “gampangnya
baca orang dari 140 KARAKTER atau APA YANG ANDA PIKIRKAN? Daripada membaca
emosi mereka secara langsung”
Gua sih kalau nge-tweet gini,
cUkUp s3K14n (baca : cukup sekian)
salam cipok jidat se-Indonesia
semarang, 28 maret 2013
Selasa, 19 Maret 2013
Good is bad, bad is good. GOD MUST BE CRAZY!
P.S. catatan ini hadir ketika temen gua bilang, “makannya
punya temen” orang ini ngomong pelan, tapi setelahnya gua berfikir tentang
orang ini, ELO SIAPA? Gau gak benci orang ini, tapi ini pelajaran, ekspektasi
terlalu baik tentang orang lain itu gak baik, kadang orang macem gini bikin
mikir, “HEY DUDE! GUE INI SIAPA ELO?” anyone else? In fact, I’m not tough, I
almost crying because this one! Haha…
Ini bukan tentang cerita tentang, film orang afrika yang
kocak itu. Ini tentang orang-orang disekitar gua. Banyak orang-orang yang
terlalu baik buat gua, ada orang-orang yang yagitu aja, “gua kenal elo kok”
abis itu bubar jalan. Lantas kenapa gua bilang good is bad, bad is good, why? Dilihat dari segi kenyamanan teman-teman gua
yang baik ini, mereka menerima gua apa adanya kok, mereka selalu bisa menerima
becandaan gua, kalo diajak ngobrol obrolan kita sama. Sedangkan orang yang
kenal gua, yang sekadar kenal, bahkan di kaca mata mereka, gua freak, nerd, or
anything bad about me, becandaan gua gak laku, obrolan kita gak sama, atau
anggep gua “skip aja nih orang”, gua gak bisa nyaman, kadang gua milih gak
kenal siapa-siapa dari pada punya temen kayak gini, rasanya jika kenal orang
ini, belum tentu gua bakal ngobrol lagi, gua punya sikap otomatis “menghindar”
sama teman-teman kayak gini. Beda cerita ada orang yang keliatannya baik, tapi
dia itu gak seutuhnya baik, macem orang kolot yang memikirkan “manfaat” oran
lain, orang ini bener-bener fu*k! karena orang ini, yah you know…. Kapan aja
bisa bunuh lu…
But in fact! Di tingkat “kenyamanan” ini, gua gak punya
tantangan, gua gak perlu survive. Ya biasa aja, kalo mau jalan, yok rame-rame
cus. Gua gak perlu resah dengan diri gua sendiri, tanpa gua harus berfikir, gua
cantik hari ini? Gua lucu hari ini? Sedangkan, dengan orang-orang sebaliknya,
tingkat kewaspadaan gua tinggi, gua lebih menghindar, liat “kiri-kanan”, karena
dengan orang-orang semacam ini, gua lebih banyak mikir tentang keberadaan gua,
dan gua mencoba mandiri dengan orang seperti ini, yah lu tahu lah, orang-orang
ini gak bisa diandelin sebagai “teman”.
Akhirnya, zona nyaman gua sendiri bisa membunuh gua suatu
saat, tiba saatnya ketika teman-teman baik gua ini memiliki kehidupan lain,
terus gua harus meratapi nasib gua? oh dear, gua harus survive!
In the real life, gua sendiri sedang bersama teman-teman
ternyaman, you don’t have to think who you are, what you are, what you are look
like, I love this! But sometime they had their comfort zone, there’s not including
me, but me too, I had time, when this good friend is bad friend, I don’t enjoy
this one…. So GOD MUST BE CRAZY!
Semarang, 16 Maret 2013 09.19 WIB
Rabu, 06 Maret 2013
Cerita Berbicara #edisipintar
Kehidupan di ibukota membuat seorang mahasiswa lulusan
pendidikan guru TK memaksa dirinya bekerja menjadi editor di sebuah penerbitan.
Bukan sebuah paksaan memang tapi dia mecintai apa yang dilakukan ini. Namanya Cerita,
buat Cerita menjadi editor merupakan hal yang menyenangkan, tapi tidak termasuk
ketika Cerita lembur yang jelas. Cerita memang suka membaca, suka berbagi
dengan orang lain, dan suka bergaul dengan orang lain.
Tiba saatnya ketika Cerita berpikir, “aku ini seorang
editor, rasanya kurang adil, jika aku hanya mengedit karya orang, tapi aku
sendiri tidak punya karya, aku ingin punya suguhan kisah-kisah menarik.” Cerita
Sebenarnya pernah membuat cerita atau novel, tapi biasanya dia tidak pernah
melanjutkannya, dia terlalu tidak percaya diri dengan diri sendiri atau dia
hanya bingun menentukan akhir dari ceritanya.
Di kantor Cerita memiliki teman dekat yang baik bernama
Nalar dan Rasa. Mereka ini teman yang membantu Cerita pada awal masa kerja di penerbitan.
Di sela istirahat kantor.
“aku ingin punya karya, bagaimana menurut kalian?” ucap
Cerita di tengah perbincangan makan siang
“wah, kemajuan seorang editor yang haus kisah-kisah… ada apa
ini?” tanya Rasa
“aku hanya ingin, entahlah, aku hanya merasakan, aku ini
editor yang perlu di edit, aku ingin tahu apa rasanya saja ketika cerita mu di
edit oleh seorang editor, aku ingin mengalami intrik ini” jawab Cerita dengan
serius
“hahaha, kau ini, coba saja, aku yakin selama kau menjadi
editor kau mulai memikirkan, apa yang mau kau buat… input mu banyak sekali
sebagai seorang editor” kata Nalar
“memang aku baru bekerja di kantor ini beberapa minggu, tapi
entah kenapa “setan” editor terlalu
menyergap” ungkap Cerita
“tapi kau masih waras kan?” celetuk Rasa
Mereka bertiga tertawa kompak
“tentu saja, tapi entahlah, sepertinya tadi pagi aku hampir
melupakan nama ku” canda Cerita
Mereka melanjutkan tertawa, kemudian meneruskan kerja mereka
Cerita memiliki partner kerja bernama Enggan, pria yang
terlihat selalu ceria, namun Cerita tidak pernah mau mengenal lebih dekat orang
ini.
Di meja Cerita ada sebuah naskah, “CERITA BERBICARA”,
dilihat oleh Enggan
Tiba-tiba Cerita datang
“ini kau yang buat?” tanya Enggan
“iya, gimana?” tanya balik Cerita sambil cengir
“terlalu kuno cerita mu, tidak biasa, cerita yang bagus
bukan yang terlalu beda dari pasaran yang ada, harusnya kau melihat di pasaran
jenis cerita apa yang biasanya ada di pasaran, terus kamu kembangin” ketus
Enggan
“oh gitu, kau tahu banyak ya” jawab Cerita dengan dingin
“iya, ku harap kau tidak marah” kemudian Enggan pergi
meninggal Cerita untuk makan siang
“ya… aku tidak marah…” jawab pelan Cerita sambil memandang
naskahnya, kemudian dibawanya naskahnya itu untuk dilihat ke teman-teman
perempuan baiknya
Dengan lesu Cerita duduk
“kenapa dear?” tanya Nalar
Kemudian Cerita menceritakan naskahnya yang selesai di
ketiknya dan berniat akan dimasukkan ke kantor penerbitannya sendiri, kemudian
menceritkan insiden antara dirinya dengan Enggan
“sudahlah, Enggan hanya iri kepada kau, aku yakin, cerita mu
bagus, tentang pengungkapan pembunuhan oleh seorang detektiv, itu unik,
diantara maraknya naskah percintaan” kata Rasa
“tapi Enggan menganggap aku tidak tahu naskah yang di
pasaran” sedih Cerita
“jadi berbeda bukan berarti aneh, itu unik, dan kau
berani!!! Lagi pula ini kantor tempat kau bekerja, kenapa harus minder, akan ku
pastikan naskah mu akan di-editor-i oleh orang yang tepat ” semangat Rasa
Dua hari kemudian
“maaf Cerita, naskah mu, editor naskah mu Jauh…” sergap
Nalar, kemudian Cerita dan Rasa resah
Hari-hari berlalu setelahnya, tapi Rasa dan Nalar tetap
menguatkan Cerita agar tetap berkarya. Minggu-minggu berlalu. Jauh terkenal
sebagai editor yang “angot-angot”-an. Entah kapan naskah akan di edit oleh Jauh,
terkadang Jauh lupa, kalau bukan karena manager-nya kantor ini sepupu Jauh,
mungkin Jauh sudah hengkang pergi dari tempat ini.
Cerita tetap punya karya, tetap menghasilkan naskah. Bukan naskah
seperti yang berada di pasaran, Cerita tetap bekerja sebagai editor. Mereka mulai
melupakan “CERITA BERBICARA”. Bahkan Cerita akan memasukkan naskah barunya, dan
berharap bukan Jauh editor-nya.
Ditengah makan siang
“CERITA!!! Naskah mu… akan diterbitkan!!! Kau hebat!!!”
teriak Rasa kencang
“waaah, gilaaaa” teriak Cerita
Nalar ikut senang, dengan berjingkrak-jingkrak
Dari kejauhan Enggan memegang naskah, “SENJA TAKUT BERBICARA”,
jenis novel percintaan, karangannya sendiri. Kemudian dibuangnya di tempat
sampah.
Enggan terlalu takut, Cerita dengan temannya Naluri dan Rasa
memiliki semangat yang luar biasa. Ketika Cerita menunggu dia tidak lantas
pasrah, dia melakukan apa yang dicintainya dengan perbedaannya yang dia punya. Kemudian
Tuhan melihat usaha cerita. “CERITA BERBICARA”
Sabtu, 23 Februari 2013
#randompost GREEBEL PENSIL WARNA “BI-COLOUR”
GREEBEL PENSIL WARNA “BI-COLOUR”
Harga : Rp. 28.700
Beberapa hari yang lalu gua sempet maen ke Gramedia. Dan
menemukan pensil warna ini, berhubung punya gua ilang gara-gara praktikum, gua
yakin pensil warna itu kebawa temen gua, tapi yaudahlah gua udah menemukan
pensil warna baru beli ini. Gua yakin
gua norak banget baru tahu tentang pensil warna ini. Unik banget, karena satu
pensil warna ini ada dua macem warna. Sebenernya gua udah pernah liat pensil
warna yang ada dua begini dari nyokap gua, nyokap gua itu penjahit jadi butuh
begituan, tapi waktu itu gua liat nyokap gua punya satu biji, dan warnanya
biru-merah, gua pikir macem kayak gini aja. Ternyata gua menemukan pensil warna
kayak nyokap dengan banyak macemnya.
Simpelnya dengan pensil warna ini enggak ribet buat
nyari-nyari pensil warna yang akan kita pake, dan gak ribet pensil yang kita
pegang, dan intinya kita pegang terus dibolak balik. Selain itu lebih hemat,
biasanya kalau beli pensil warna dengan warna yang itu-itu aja, ini jadi banyak
macemnya, tanpa harus beli pensil warna lagi yang macem-macem itu. Isinya ada
12 pensil tapi ada 24 macem warna! Keren dan praktis gitu kalau kata gua.
Harga boleh lumayan murah dan selain itu praktis, tapi
ketika udah diaplikasikan buat gambar-gambar lumayan kok. “Kereng” alias
jelasnya mantep banget buat gambar, karena gua udah nyoba sendiri.
~Sekian
22 feb 2013
Rabu, 20 Februari 2013
#bookreview “MY Life as FILM DIRECTOR”
“MY Life as FILM DIRECTOR”
Penulis :
Haqi Achmad
Halaman :
186 hlm
Penerbit :
PlotPoint Publishing (PT Bentang Pustaka)
I bought this book about 2 months ago at Semarang, niat pertama emang beli novel, tapi entah kenapa buku ini menarik banget dari covernya suka aja. Intinya sih gua beli buku ini cuman buat bacaan iseng-iseng aja. Finally, gua suka sama buku ini, bukan sekadar cover keren tapi isinya juga menarik dan berbobot.
Isi bukunya tentang perjalanan 4 sutradara, yaitu Hanung Bramantyo, Ifa Isfansyah, Joko Anwar, dan Sammaria Simanjuntak. Bagaimana mengawali karir mereka sebagai sutradara. Ada yang awalnya emang kuliah perfilman atau ada yang secara gak sengaja menyengajai dirinya untuk berkecimpung dalam dunia perfilman.
Haqi sendri membuat buku ini semacam buku panduan bagi
orang-orang yang resah akan jiwa sutradara orang-orang diluar sana agar bisa
bangkit. Buku ini bisa jadi seminar singkat buat orang-orang yang “GUE PENGEN
JADI SUTRADARA”. Lewat cerita dari 4 sutradara ternama ini membuat cerita jadi seseorang
yang mereka lakuin sekarang gak segampang yang dibayangkan, tapi nasib kadang
ngebuat mereka jadi orang yang beruntung jadi seorang sutradara yang handal. Kuncinya
sih mereka cinta dengan dunia seni ini.
Gua sendiri seorang mahasiswa perikanan. Dan kalau ditanya,
emang elu mau jadi sutradara? Gua jawab enggak. Terus kalau ada yang tanya, lu
kenapa beli? Gua jawab, mereka unik. Cerita mereka semua bisa jadi bahan
semangat. Karena enggak selamanya pelawak belajar dari seorang pelawak, para
pelawak nyari bahan lawak dari kejadian spele yang ada di kehidupan
sehari-hari. Belajar sedikit dari mereka yang ulet menekuni dunia perfilman,
mereka idealis dalam ngebuat seni mereka ini, dan gak selamanya apa yang
ditekuni jadi “job” mereka, Sammaria sendiri tadinya seorang arsitek dan Joko
Anwar sendiri tadinya bekerja di The Jakarta Post. See? Entah kenapa gua
percaya campur tangan Tuhan memberkahi setiap langkah mereka sebagai seorang
sutradara.
Okey, this is my book review dari gua. Enggak bagus dan
melenceng dari “bacaan” yang disebut resensi. Tapi this is the way I look the “things”.
~Sekian
20 februari 2013
Selasa, 19 Februari 2013
semacam bacaan (sok) pintar #edisiustad
[ADELE, HIDING MY HEART]. This is popular song. And the
singer is popular too. Cermati lagu ini sampe habis. Cute ya suaranya? I really
love how Adele sing the sad song being interesting song, is not only “menyemenye”
song, but also you can hear technique the way of her sing, it`s superb!
"This is how the story when
I met someone by accidentWho blew me away
Blew me away
And It was in the darkest of my days
When you took my sorrow and you took my pain
And buried them away, buried them away
I wish I could lay down beside you
When the day is done
And wake up to your face against the morning sun
But like everything I've ever known
You'll disappear one day
So I'll spend my whole life hiding my heart away [ADELE, HIDING MY HEART]"
Seperti biasanya kadar otak gua bukan seorang yang pinter
banget ngartiin sebuah lagu. Dalih gua sih “saya cuman mahasiswa perikanan”,
hahaha. Back to the topic! Ceritanya ada seorang wanita [anggep aja wanita,
karena dalem kasus ini bisa aja orang lain mengartikan ini pria *sikap*] kemudian
wanita itu bertemu dengan seorang pria, saling mengenal deh mereka. Sesungguhnya
mereka kemudian menjadi teman, tapi semacam Teman Tapi Mesra. Karena buat gua,
GILAK! Wanita ini sampe begitu suka kalo enggak karena ada apa-apa sama pria ini. And at least…. [So
I'll spend my whole life hiding my heart away] I hate this song then just for a
moment, karena wanita ini terlalu apa ya… give up banget buat masalahnya. Terlalu
banyak pengharapan dari si wanita dalem lagu ini, terlalu banyak mimpi itu
malah ngebuat dunia sendiri, yes, macem autis gitu, mereka seneng sama dunia
mereka sendiri. DO NOT DO THAT IF YOU SOBER AND HEALTH!
So, Tuhan itu bersama prasangka hambanya. Ada kalanya
manusia punya iman yang naek turun kayak rok mini yang terbang-terbang. Tapi gua
disini sebagai semacam ustad.. widiiiih… “Jamaaaah….!” Hahaha, gua cuman
mengingatkan, bisa kali ya kita punya mimpi tapi bisa juga kali mimpi itu dijadiin
rencana hidup bukan pegangan hidup. Pegangan hidup cukup agama. Semoga kita
punya prasangka yang baik, Tuhan bilang, “berdoalah kepada Ku, maka Aku
kabulkan…” God is almighty. Segala sesuatunya yang terlihat gak sengaja [I met
someone by accident] Tuhan udah atur. GILAK nih gua ceritanya, semacam abis
move on gitu… Terus obrolan gua macem ustad…
Sekarang gua mau buat prasangka baik gua dulu, minggir, prasangka baik gua kali
ini adalah… GUA NIKAH SAMA TEZA SUMENDRA. [I do not care tentang orang-orang
bilang, gua cuman mau merealisasikan apa yang gua ungkap tadi. so, Shut up!!] *peace*
*pipis, lup, en gahul*
19 FEB 2013
Langganan:
Postingan (Atom)

