Selasa, 19 Maret 2013

Good is bad, bad is good. GOD MUST BE CRAZY!


P.S. catatan ini hadir ketika temen gua bilang, “makannya punya temen” orang ini ngomong pelan, tapi setelahnya gua berfikir tentang orang ini, ELO SIAPA? Gau gak benci orang ini, tapi ini pelajaran, ekspektasi terlalu baik tentang orang lain itu gak baik, kadang orang macem gini bikin mikir, “HEY DUDE! GUE INI SIAPA ELO?” anyone else? In fact, I’m not tough, I almost crying because this one! Haha…

Ini bukan tentang cerita tentang, film orang afrika yang kocak itu. Ini tentang orang-orang disekitar gua. Banyak orang-orang yang terlalu baik buat gua, ada orang-orang yang yagitu aja, “gua kenal elo kok” abis itu bubar jalan. Lantas kenapa gua bilang good is bad, bad is good, why?  Dilihat dari segi kenyamanan teman-teman gua yang baik ini, mereka menerima gua apa adanya kok, mereka selalu bisa menerima becandaan gua, kalo diajak ngobrol obrolan kita sama. Sedangkan orang yang kenal gua, yang sekadar kenal, bahkan di kaca mata mereka, gua freak, nerd, or anything bad about me, becandaan gua gak laku, obrolan kita gak sama, atau anggep gua “skip aja nih orang”, gua gak bisa nyaman, kadang gua milih gak kenal siapa-siapa dari pada punya temen kayak gini, rasanya jika kenal orang ini, belum tentu gua bakal ngobrol lagi, gua punya sikap otomatis “menghindar” sama teman-teman kayak gini. Beda cerita ada orang yang keliatannya baik, tapi dia itu gak seutuhnya baik, macem orang kolot yang memikirkan “manfaat” oran lain, orang ini bener-bener fu*k! karena orang ini, yah you know…. Kapan aja bisa bunuh lu…

But in fact! Di tingkat “kenyamanan” ini, gua gak punya tantangan, gua gak perlu survive. Ya biasa aja, kalo mau jalan, yok rame-rame cus. Gua gak perlu resah dengan diri gua sendiri, tanpa gua harus berfikir, gua cantik hari ini? Gua lucu hari ini? Sedangkan, dengan orang-orang sebaliknya, tingkat kewaspadaan gua tinggi, gua lebih menghindar, liat “kiri-kanan”, karena dengan orang-orang semacam ini, gua lebih banyak mikir tentang keberadaan gua, dan gua mencoba mandiri dengan orang seperti ini, yah lu tahu lah, orang-orang ini gak bisa diandelin sebagai “teman”.

Akhirnya, zona nyaman gua sendiri bisa membunuh gua suatu saat, tiba saatnya ketika teman-teman baik gua ini memiliki kehidupan lain, terus gua harus meratapi nasib gua? oh dear, gua harus survive!
In the real life, gua sendiri sedang bersama teman-teman ternyaman, you don’t have to think who you are, what you are, what you are look like, I love this! But sometime they had their comfort zone, there’s not including me, but me too, I had time, when this good friend is bad friend, I don’t enjoy this one…. So GOD MUST BE CRAZY!

Semarang, 16 Maret 2013 09.19 WIB

Rabu, 06 Maret 2013

Cerita Berbicara #edisipintar


Kehidupan di ibukota membuat seorang mahasiswa lulusan pendidikan guru TK memaksa dirinya bekerja menjadi editor di sebuah penerbitan. Bukan sebuah paksaan memang tapi dia mecintai apa yang dilakukan ini. Namanya Cerita, buat Cerita menjadi editor merupakan hal yang menyenangkan, tapi tidak termasuk ketika Cerita lembur yang jelas. Cerita memang suka membaca, suka berbagi dengan orang lain, dan suka bergaul dengan orang lain.
Tiba saatnya ketika Cerita berpikir, “aku ini seorang editor, rasanya kurang adil, jika aku hanya mengedit karya orang, tapi aku sendiri tidak punya karya, aku ingin punya suguhan kisah-kisah menarik.” Cerita Sebenarnya pernah membuat cerita atau novel, tapi biasanya dia tidak pernah melanjutkannya, dia terlalu tidak percaya diri dengan diri sendiri atau dia hanya bingun menentukan akhir dari ceritanya.
Di kantor Cerita memiliki teman dekat yang baik bernama Nalar dan Rasa. Mereka ini teman yang membantu Cerita pada awal masa kerja di penerbitan.

Di sela istirahat kantor.
“aku ingin punya karya, bagaimana menurut kalian?” ucap Cerita di tengah perbincangan makan siang
“wah, kemajuan seorang editor yang haus kisah-kisah… ada apa ini?” tanya Rasa
“aku hanya ingin, entahlah, aku hanya merasakan, aku ini editor yang perlu di edit, aku ingin tahu apa rasanya saja ketika cerita mu di edit oleh seorang editor, aku ingin mengalami intrik ini” jawab Cerita dengan serius
“hahaha, kau ini, coba saja, aku yakin selama kau menjadi editor kau mulai memikirkan, apa yang mau kau buat… input mu banyak sekali sebagai seorang editor” kata Nalar
“memang aku baru bekerja di kantor ini beberapa minggu, tapi entah kenapa “setan” editor  terlalu menyergap” ungkap Cerita
“tapi kau masih waras kan?” celetuk Rasa
Mereka bertiga tertawa kompak
“tentu saja, tapi entahlah, sepertinya tadi pagi aku hampir melupakan nama ku” canda Cerita
Mereka melanjutkan tertawa, kemudian meneruskan kerja mereka

Cerita memiliki partner kerja bernama Enggan, pria yang terlihat selalu ceria, namun Cerita tidak pernah mau mengenal lebih dekat orang ini.
Di meja Cerita ada sebuah naskah, “CERITA BERBICARA”, dilihat oleh Enggan
Tiba-tiba Cerita datang
“ini kau yang buat?” tanya Enggan
“iya, gimana?” tanya balik Cerita sambil cengir
“terlalu kuno cerita mu, tidak biasa, cerita yang bagus bukan yang terlalu beda dari pasaran yang ada, harusnya kau melihat di pasaran jenis cerita apa yang biasanya ada di pasaran, terus kamu kembangin” ketus Enggan
“oh gitu, kau tahu banyak ya” jawab Cerita dengan dingin
“iya, ku harap kau tidak marah” kemudian Enggan pergi meninggal Cerita untuk makan siang
“ya… aku tidak marah…” jawab pelan Cerita sambil memandang naskahnya, kemudian dibawanya naskahnya itu untuk dilihat ke teman-teman perempuan baiknya
Dengan lesu Cerita duduk
“kenapa dear?” tanya Nalar
Kemudian Cerita menceritakan naskahnya yang selesai di ketiknya dan berniat akan dimasukkan ke kantor penerbitannya sendiri, kemudian menceritkan insiden antara dirinya dengan Enggan
“sudahlah, Enggan hanya iri kepada kau, aku yakin, cerita mu bagus, tentang pengungkapan pembunuhan oleh seorang detektiv, itu unik, diantara maraknya naskah percintaan” kata Rasa
“tapi Enggan menganggap aku tidak tahu naskah yang di pasaran” sedih Cerita
“jadi berbeda bukan berarti aneh, itu unik, dan kau berani!!! Lagi pula ini kantor tempat kau bekerja, kenapa harus minder, akan ku pastikan naskah mu akan di-editor-i oleh orang yang tepat ” semangat Rasa

Dua hari kemudian
“maaf Cerita, naskah mu, editor naskah mu Jauh…” sergap Nalar, kemudian Cerita dan Rasa resah
Hari-hari berlalu setelahnya, tapi Rasa dan Nalar tetap menguatkan Cerita agar tetap berkarya. Minggu-minggu berlalu. Jauh terkenal sebagai editor yang “angot-angot”-an. Entah kapan naskah akan di edit oleh Jauh, terkadang Jauh lupa, kalau bukan karena manager-nya kantor ini sepupu Jauh, mungkin Jauh sudah hengkang pergi dari tempat ini.

Cerita tetap punya karya, tetap menghasilkan naskah. Bukan naskah seperti yang berada di pasaran, Cerita tetap bekerja sebagai editor. Mereka mulai melupakan “CERITA BERBICARA”. Bahkan Cerita akan memasukkan naskah barunya, dan berharap bukan Jauh editor-nya.
Ditengah makan siang
“CERITA!!! Naskah mu… akan diterbitkan!!! Kau hebat!!!” teriak Rasa kencang
“waaah, gilaaaa” teriak Cerita
Nalar ikut senang, dengan berjingkrak-jingkrak
Dari kejauhan Enggan memegang naskah, “SENJA TAKUT BERBICARA”, jenis novel percintaan, karangannya sendiri. Kemudian dibuangnya di tempat sampah.

Enggan terlalu takut, Cerita dengan temannya Naluri dan Rasa memiliki semangat yang luar biasa. Ketika Cerita menunggu dia tidak lantas pasrah, dia melakukan apa yang dicintainya dengan perbedaannya yang dia punya. Kemudian Tuhan melihat usaha cerita. “CERITA BERBICARA” 


Sabtu, 23 Februari 2013

#randompost GREEBEL PENSIL WARNA “BI-COLOUR”


GREEBEL PENSIL WARNA “BI-COLOUR”
Harga : Rp. 28.700


Beberapa hari yang lalu gua sempet maen ke Gramedia. Dan menemukan pensil warna ini, berhubung punya gua ilang gara-gara praktikum, gua yakin pensil warna itu kebawa temen gua, tapi yaudahlah gua udah menemukan pensil warna baru beli ini. Gua  yakin gua norak banget baru tahu tentang pensil warna ini. Unik banget, karena satu pensil warna ini ada dua macem warna. Sebenernya gua udah pernah liat pensil warna yang ada dua begini dari nyokap gua, nyokap gua itu penjahit jadi butuh begituan, tapi waktu itu gua liat nyokap gua punya satu biji, dan warnanya biru-merah, gua pikir macem kayak gini aja. Ternyata gua menemukan pensil warna kayak nyokap dengan banyak macemnya.
Simpelnya dengan pensil warna ini enggak ribet buat nyari-nyari pensil warna yang akan kita pake, dan gak ribet pensil yang kita pegang, dan intinya kita pegang terus dibolak balik. Selain itu lebih hemat, biasanya kalau beli pensil warna dengan warna yang itu-itu aja, ini jadi banyak macemnya, tanpa harus beli pensil warna lagi yang macem-macem itu. Isinya ada 12 pensil tapi ada 24 macem warna! Keren dan praktis gitu kalau kata gua.
Harga boleh lumayan murah dan selain itu praktis, tapi ketika udah diaplikasikan buat gambar-gambar lumayan kok. “Kereng” alias jelasnya mantep banget buat gambar, karena gua udah nyoba sendiri.
~Sekian
22 feb 2013 

Rabu, 20 Februari 2013

#bookreview “MY Life as FILM DIRECTOR”


“MY Life as FILM DIRECTOR”


Penulis                 : Haqi Achmad
Halaman              : 186 hlm
Penerbit              : PlotPoint Publishing (PT Bentang Pustaka)

I bought this book about 2 months ago at Semarang, niat pertama emang beli novel, tapi entah kenapa buku ini menarik banget dari covernya suka aja. Intinya sih gua beli buku ini cuman buat bacaan iseng-iseng aja. Finally, gua suka sama buku ini, bukan sekadar cover keren tapi isinya juga menarik dan berbobot.

Isi bukunya tentang perjalanan 4 sutradara, yaitu Hanung Bramantyo, Ifa Isfansyah, Joko Anwar, dan Sammaria Simanjuntak. Bagaimana mengawali karir mereka sebagai sutradara. Ada yang awalnya emang kuliah perfilman atau ada yang secara gak sengaja menyengajai dirinya untuk berkecimpung dalam dunia perfilman.







Haqi sendri membuat buku ini semacam buku panduan bagi orang-orang yang resah akan jiwa sutradara orang-orang diluar sana agar bisa bangkit. Buku ini bisa jadi seminar singkat buat orang-orang yang “GUE PENGEN JADI SUTRADARA”. Lewat cerita dari 4 sutradara ternama ini membuat cerita jadi seseorang yang mereka lakuin sekarang gak segampang yang dibayangkan, tapi nasib kadang ngebuat mereka jadi orang yang beruntung jadi seorang sutradara yang handal. Kuncinya sih mereka cinta dengan dunia seni ini.

Gua sendiri seorang mahasiswa perikanan. Dan kalau ditanya, emang elu mau jadi sutradara? Gua jawab enggak. Terus kalau ada yang tanya, lu kenapa beli? Gua jawab, mereka unik. Cerita mereka semua bisa jadi bahan semangat. Karena enggak selamanya pelawak belajar dari seorang pelawak, para pelawak nyari bahan lawak dari kejadian spele yang ada di kehidupan sehari-hari. Belajar sedikit dari mereka yang ulet menekuni dunia perfilman, mereka idealis dalam ngebuat seni mereka ini, dan gak selamanya apa yang ditekuni jadi “job” mereka, Sammaria sendiri tadinya seorang arsitek dan Joko Anwar sendiri tadinya bekerja di The Jakarta Post. See? Entah kenapa gua percaya campur tangan Tuhan memberkahi setiap langkah mereka sebagai seorang sutradara.

Okey, this is my book review dari gua. Enggak bagus dan melenceng dari “bacaan” yang disebut resensi. Tapi this is the way I look the “things”.

~Sekian
20 februari 2013

Selasa, 19 Februari 2013

semacam bacaan (sok) pintar #edisiustad


[ADELE, HIDING MY HEART]. This is popular song. And the singer is popular too. Cermati lagu ini sampe habis. Cute ya suaranya? I really love how Adele sing the sad song being interesting song, is not only “menyemenye” song, but also you can hear technique the way of her sing, it`s superb!
"This is how the story when
I met someone by accidentWho blew me away
Blew me away
And It was in the darkest of my days
When you took my sorrow and you took my pain
And buried them away, buried them away
I wish I could lay down beside you
When the day is done
And wake up to your face against the morning sun
But like everything I've ever known
You'll disappear one day
So I'll spend my whole life hiding my heart away [ADELE, HIDING MY HEART]"
Seperti biasanya kadar otak gua bukan seorang yang pinter banget ngartiin sebuah lagu. Dalih gua sih “saya cuman mahasiswa perikanan”, hahaha. Back to the topic! Ceritanya ada seorang wanita [anggep aja wanita, karena dalem kasus ini bisa aja orang lain mengartikan ini pria *sikap*] kemudian wanita itu bertemu dengan seorang pria, saling mengenal deh mereka. Sesungguhnya mereka kemudian menjadi teman, tapi semacam Teman Tapi Mesra. Karena buat gua, GILAK! Wanita ini sampe begitu suka kalo enggak karena  ada apa-apa sama pria ini. And at least…. [So I'll spend my whole life hiding my heart away] I hate this song then just for a moment, karena wanita ini terlalu apa ya… give up banget buat masalahnya. Terlalu banyak pengharapan dari si wanita dalem lagu ini, terlalu banyak mimpi itu malah ngebuat dunia sendiri, yes, macem autis gitu, mereka seneng sama dunia mereka sendiri. DO NOT DO THAT IF YOU SOBER AND HEALTH!

So, Tuhan itu bersama prasangka hambanya. Ada kalanya manusia punya iman yang naek turun kayak rok mini yang terbang-terbang. Tapi gua disini sebagai semacam ustad.. widiiiih… “Jamaaaah….!” Hahaha, gua cuman mengingatkan, bisa kali ya kita punya mimpi tapi bisa juga kali mimpi itu dijadiin rencana hidup bukan pegangan hidup. Pegangan hidup cukup agama. Semoga kita punya prasangka yang baik, Tuhan bilang, “berdoalah kepada Ku, maka Aku kabulkan…” God is almighty. Segala sesuatunya yang terlihat gak sengaja [I met someone by accident] Tuhan udah atur. GILAK nih gua ceritanya, semacam abis move on gitu… Terus obrolan gua macem ustad…
Sekarang gua mau buat prasangka baik gua dulu, minggir, prasangka baik gua kali ini adalah… GUA NIKAH SAMA TEZA SUMENDRA. [I do not care tentang orang-orang bilang, gua cuman mau merealisasikan apa yang gua ungkap tadi. so, Shut up!!] *peace* *pipis, lup, en gahul*

19 FEB 2013

Senin, 18 Februari 2013

semacam bacaan (sok) pintar


THE CALL [neptune and backstreet boys]. I just listened this song for many times. Dunno lagu ini cukup kece dibawain oleh Teza Sumendra dengan suaranya yang gahar itu sangat bisa membuat perempuan-perempuan disana mati gaya (including meeee!). I just realized about one paragraph of this lyric is touching….

Now two years gone, nothing’s been won
I can’t take  it back, what’s done is doneOne of her friends found out that she wasn’t my only one
And it eats me from inside that she’s not by my sideJust because I made that call and lied
THE CALL [neptune and backstreet boys]

Pertama kali gua denger lagu ini ampe berkali-kali yang pertama kali gua puji adalah suara Teza (jelas), lama-lama penasaran, terus gua cari liriknya. Dan sepinter kadar otak gua tentang arti dari lagu ini cukup bikin gua bĂȘte pertama kali, jadi intinya si pria ini ngebohongin pacarnya untuk wanita lain lewat telfon,  ampe akhirnya si pria ini putus. Dan yang jadi perhatian adalah lirik yang gua kutip di atas… [I can’t take  it back, what’s done is done] intinya kita gak bisa ke masa lalu yang udah ya udah. So, meskipun pria ini bajingan banget, tapi dia sadar banget kalau dia salah, dan ngerasa menyesal [And it eats me from inside that she’s not by my side].

Disinilah point gua untuk berbicara, masa lalu itu cukup buat jadiin lucu-lucuan. Gak usah serius banget sama masa lalu, mereka itu gak bertanggung jawab buat kalian sedih dan galau. Mereka itu cukup untuk ditertawakan. Ketika kita ngerasa salah, yaudah, apa pun kata orang tentang kita di masa lalu. Biarin mereka itu korban masa lalu, ini kita, perkara mereka masih ngebawa perkara lama, this is ME, you? BASTARD.

18 februari 2013                                                                       

Rabu, 03 Oktober 2012

MUARA ANGKE

Awal libur semester bersama temen kuliah menyempatkan diri ke Muara Angke semacam mencari ilmu pengetahuan tentang perikanan, padahal intinya sama temen waktu itu cuman mau merasakan sensasi ketemuan di Jakarta, karena kita awal ketemu di Semarang, dan akhirnya gitu-gitu aja.

Kita ketemuan di halte Transjakarta Pluit kalau gak salah, setelahnya lanjut naek bajaj, secara hari itu angkot banyak yang mogok. Setelah tibanya di Muara Angke, banyak kesan yang ada di kepala, semacam pikiran, “ini pelabuhan yang ada di Jakartaaa!! Beneran? Kok gini yaaa…” semerbak banget baunya, gak cuman amis ikan karena emang pelabuhan ikan, tapi pesing, bau lumpur yang agak mirip bau got dan lain sebagainya. Pas kita kesana emang gak ada pelelangan ikan, harusnya pagi atau sore, biasanya nelayan baru pulang melaut, posisi tiba disana sekita jam 11-an, yang jelas panas.

Karena pernah ke Pelabuhan perikanan Demak, di Wedung dan Morodemak, kita mencoba sedikit bertanya dengan Seorang petugas pelabuhan disana, mencoba cari perbedaan dan kesamaan antar pelabuhan dari daerah lain, cukup banyak info yang diberikan, dan beliau malah memberitahu tata cara kita kalau kita mau buat penilitian di tempat itu.

Banyak hal yang kontras banget, antara pelabuhan perikanan di Muara Angke dan Ibu Kota Negara ini, meskipun deket Pelabuhan Perikanan Samudra Nizam Zaman (kalau gak salah namanya) ada kesan kumuh, kurang paham sebenernya, emang pelabuhan perikanan seperti ini atau gimana? Tapi kenyataannya emang gini, dibandingkan di Demak tempat lelang di Muara Angke lebih besar memang dan kapal-kapalnya lumayan besar dan sudah dilengkapi alat bantu penangkap ikan, seperti lampu untuk membantu mengumpulkan ikan di malam hari dan kita pertama kali melihat kapal tersebut.

Meskipun terletak di Jakarta, entah kenapa tempat itu luput dari perhatian pemerintah, mungkin ada tapi kurang maksimal ya. Sebenernya kalau dari awal bidang perikanan dibuat lebih berkesan dan bisa menimbulkan kesan bahwa perikanan itu menguntungkan mungkin akan banyak orang yang tertarik bidang ini. Pelabuhan misalnya jika lingkungan dibuat sedikit lebih nyaman dan bersih, mungkin orang-orang yang kesana tidak hanya sekadar jual-beli ikan, melainkan kunjungan oleh anak sekolah SD-SMA, atau mungkin TK, kesan nyaman dan bersih bisa menimbulkan bahwa bidang perikanan itu 

I took some pictures in Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara

pelabuhan ini terletak Jakarta, berbanding terbalik dengan pembangunan kota yang sana-sini, sedangkan di sekitar pelabuhan ya gini adanya

macam kapal besar dengan alat bantu penankap ikan yaitu lampu di sekitar kapal 

miris banget ngeliatnya, seandainya di tanem mangroove, emang agak hutan banget, seenggaknya agak ke urus dan kali aja bisa membantu permsalahan penghijauan kota lewat mangroove, siapa sangka?


Salam scientist~
Semacam catatan sok pinter~
RGDS
Pertiwi Handayani